Pokok Pikiran & Abstrak
Analisis keabsahan akad otomatis berbasis blockchain ditinjau dari rukun akad, unsur gharar, maysir, dan nilai taqawwum dalam madzhab Syafi'i.
Perkembangan teknologi desentralisasi keuangan (*Decentralized Finance*) melalui mekanisme *Smart Contract* memunculkan diskursus mendasar dalam disiplin Fiqh Muamalah Kontemporer.
Dalam kaidah fiqhiyyah disebutkan:
الأَصْلُ فِي الْمُعَامَلَاتِ الإِبَاحَةُ إِلَّا أَنْ يَدُلَّ دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِهَا
*"Hukum asal dalam segala bentuk muamalah adalah boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya."*
Namun demikian, keabsahan akad digital ini harus memenuhi syarat terbebasnya transaksi dari tiga cacat utama: *riba*, *gharar* (ketidakjelasan yang merugikan), dan *qimar/maysir* (spekulasi murni). Pada instrumen aset kripto yang memiliki volatilitas ekstrem tanpa underlying asset riil, para fukaha kontemporer seperti Majma' al-Fiqh al-Islami menegaskan adanya potensi gharar fahisy yang menuntut kehati-hatian (*ihtiyath*).
Mahasantri Ma'had Aly DDI Mangkoso mengkaji persoalan ini dengan memadukan matan *Fathul Mu'in* dan *Nihayatul Muhtaj* bersama fatwa-fatwa terbaru DSN-MUI untuk melahirkan panduan fatwa yang aplikatif bagi masyarakat muslim modern.
Kata Kunci:#Fiqh Muamalah#Smart Contract#Kripto#Fintech Syariah