Pokok Pikiran & Abstrak
Sebuah catatan reflektif mahasantri tentang pentingnya menjaga takzim pada sanad guru dan keheningan batin saat informasi begitu melimpah ruah.
Di era ketika jutaan potongan fatwa dan kutipan teks agama dapat diakses hanya dalam hitungan detik melalui layar gawai, ada satu hal yang kerap terlupakan: adab talaqqi dan ketundukan hati di hadapan guru.
Imam Malik rahimahullah berpesan kepada seorang pemuda Quraisy:
تَعَلَّمِ الأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ العِلْمَ
*"Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu."*
Kemudahan berselancar di internet tidak boleh mengikis rasa takzim kepada masyayikh. Ilmu agama bukanlah sekadar akumulasi data kognitif, melainkan cahaya nurani (*nurun yaqdzifuhullahu fi al-qalb*) yang dialirkan melalui berkah sanad dan keridhaan para guru. Bagi mahasantri Ma'had Aly, berinteraksi dengan dunia digital menuntut kewaspadaan ganda: memanfaatkan teknologi sebagai jembatan syiar dakwah, tanpa kehilangan kemurnian akhlak dan ketawadukan santri salaf.
Kata Kunci:#Refleksi#Adab Santri#Era Digital#Pesantren