Refleksi Pesantren & Kehidupan

Refleksi Adab Menuntut Ilmu di Tengah Riuhnya Arus Digital

Muhammad Raihan

Mahasantri Marhalah Ula

05 Oktober 2026 (23 Rabiul Akhir 1448 H)

Waktu baca: ± 4 menit • 185x dibaca

Pokok Pikiran & Abstrak

Sebuah catatan reflektif mahasantri tentang pentingnya menjaga takzim pada sanad guru dan keheningan batin saat informasi begitu melimpah ruah.

Di era ketika jutaan potongan fatwa dan kutipan teks agama dapat diakses hanya dalam hitungan detik melalui layar gawai, ada satu hal yang kerap terlupakan: adab talaqqi dan ketundukan hati di hadapan guru. Imam Malik rahimahullah berpesan kepada seorang pemuda Quraisy: تَعَلَّمِ الأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ العِلْمَ *"Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu."* Kemudahan berselancar di internet tidak boleh mengikis rasa takzim kepada masyayikh. Ilmu agama bukanlah sekadar akumulasi data kognitif, melainkan cahaya nurani (*nurun yaqdzifuhullahu fi al-qalb*) yang dialirkan melalui berkah sanad dan keridhaan para guru. Bagi mahasantri Ma'had Aly, berinteraksi dengan dunia digital menuntut kewaspadaan ganda: memanfaatkan teknologi sebagai jembatan syiar dakwah, tanpa kehilangan kemurnian akhlak dan ketawadukan santri salaf.
Kata Kunci:#Refleksi#Adab Santri#Era Digital#Pesantren
Bagikan Tulisan Ini:
M

Muhammad Raihan

Mahasantri Marhalah Ula

Mahasantri penggiat literasi dan kajian reflektif Ma'had Aly DDI Mangkoso.